Arsip untuk April, 2009

Tentang Ginkgo Biloba

Sering denger nama ini khan??? Namanya memang bagus, sebagus efek farmakologisnya terhadap kesehatan manusia. Ekstrak ginkgo biloba diperoleh dari daun Pohon Ginkgo biloba L., (a.k.a Pterophyllus salisburiensis, a.k.a Salisburia adintifolia, a.k.a Salisburia macrophylla).

KEGUNAAN
Ginkgo Biloba digunakan sebagai terapi pada kekurang lancaran sirkulasi darah di otak, di otot aktif, serta digunakan juga pada pengobatan vertigo dan telinga berdengung akibat sirkulasi darah yang kurang baik. Ginkgo Biloba telah diterima dalam pengobatan untuk defisit minor pada fungsi otak, terutama untuk usia lanjut. Biasanya ginkgo digunakan untuk meningkatkan daya konsentrasi, serta melawan kepikunan terutama yang disebabkan karena menciutnya arteri otak. Selain itu, ginkgo juga diketahui bermanfaat untuk terapi telinga berdengung, sakit kepala, dan juga ketidakstabilan emosi akibat kecemasan.

MEKANISME KERJA
Walaupun pohon ginkgo udah ditemukan 200 juta tahun yang lalu, baru beberapa dekade ini saja dapat diketahui manfaat sebenarnya dari ginkgo ini. Senyawa aktif dari ekstrak ginkgo biloba meningkatkan sirkulasi darah, menghambat pembentukan “clotting” serta melindungi sel-sel saraf dari kerusakan jika terjadi kekurangan oksigen. Zat aktif ini juga diketahui memiliki efek antioksidan juga melindungi kerusakan otak dari radikal bebas. Karena sulit sekali untuk mendapatkan senyawa aktif yang murni dari dau ginkgo biloba, maka yang terdapat di pasaran hanyalah ekstrak konsentratnya aja.
Pohon ginkgo dapat tumbuh sampai lebih dari 100 kaki tingginya, dan umurnya dapat mencapai ratusan tahun. Secara alami, tumbuhan ini tumbuh di wilayah China, Jepang dan Korea, tapi sekarang, sudah menyebar di seluruh belahan dunia.

KONTRA INDIKASI

Hindari menggunakan produk-produk yang mengandung ginkgo jika kita memiliki riwayat kemungkinan terjadi pendarahan pada otak (stroke hemoragik). Hindari juga bila telah nyata terjadi reaksi alergi terhadap produk herbal ini.

PERINGATAN KHUSUS
Bila dikonsumsi dalam dosis normal (yang dianjurkan), sangat jarang ditemui terjadi efek samping. Bila terjadi efek samping biasanya adalah, kejang, cramp dan gangguan pencernaan ringan. Dan alergi sangat jarang ditemui pada pemakaian produk herbal ini.

INTERAKSI OBAT
Kombinasi ginkgo dan obat-obatan pengencer darah, antiplatelet atau aspirin dapat meningkatkan resiko terjadinya pendarahan otak.

Demikian informasi yang dapat saya kompilasikan tentang ginkgo biloba, semoga membantu..

1 Komentar

Pendidikan jaman sekarang

Aku hidup di sebuah perkampungan yang lumayan “terdidik”. Setidaknya aku mengambil kesimpulan itu dari banyaknya lembaga pendidikan baik yang formal maupun non formal yang banyak menjamur di kampungku. Setidaknya ada 5 kompleks sekolahan dan 3 pondok pesantren yang bercokol di tempatku lahir.

Dari 5 sekolahan itu, 3 sekolah merupakan sekolah negeri, 2 sekolah milik Ormas islam. Sejak dari kakek aku, keluarga aku memang dikenal di kampungku sebagai keluarga guru, sebelum ada banyak sekolahan, sekolah pertama di kampungku yang mengepalai adalah kakek dan gurunya adalah nenekku (*KKN banget ya???……). Sampai sekarang, tradisi menjadi “guru” itupun berlanjut (*hanya aku dan mbakku aja yang nyleneh, ga jadi guru hahahaha…) dari 5 sekolahan tersebut, 1 sekolah dikepalai oleh bapakku, 1 dikepalai oleh bu likku, 1 lagi ketua yayasannya adalah pakdheku.

Beberapa hari ini, keluarga kami ribut masalah sekolahan ini. Bapak dan bulikku merupakan PNS, jadi yang dikepalainya adalah sekolah plat merah. Ada salah satu sekolah lain, yang kebetulan dibawah naungan Yayasan Al Ma’arif (punyanya NU) melakukan inovasi yang luar biasa mengganggu stabilitas sekolah lain (*hohoho..bahasanya). Perguruan Sunan Ampel, begitu nama kompleks sekolahan itu, melakukan jemput bola terhadap calon murid baru. Secara yang jadi murid baru disitu adalah anak-anak umur 6-7 tahunan, acara jemput bola itu dikemas menjadi program “touring” keliling kampung menggunakan kereta kelinci yang terminal akhirnya adalah kompleks sekolah Sunan Ampel tsb, walhasil karena terminal akhirnya adalah sekolahan, anak-anak yang ikut touring juga kudu masuk ruang kelas Sunan Ampel (a.k.a sekolah disitu).

Bu likku pagi ini mencak-mencak… “lek ngene terus lak enthek arek-areke?!!” (*terj: kalo begini terus kan anak-anaknya pada habis semua??!!) begitu katanya, bapakku cuman mesam-mesem aja.. Tapi aku tahu bapakku juga mikir, karena 2 bulan yang lalu salah satu sekolah yang dipimpin temannya juga dilikuidasi ama Pemkab gara-gara kehabisan murid. Ternyata persaingan itu terjadi juga di kampungku….

Tinggalkan sebuah Komentar

Dermatitis pada Bayi akibat penggunaan Diaper

Bayi adalah makhluk yang lemah (*halah opo tho ki???…) banyak penyakit yang amat suka menyerang bayi yang lemah ini daripada menyerang ibu bapaknya. Hari ini menghadapi berondongan pertanyaan dari salah satu saudara yang kebetulan punya baby. Sang baby mengalami dermatitis karena kemalesan sang ibu dalam mengganti popok (diaper). Kasihan banget, kulitnya sampai merah-merah dan sang bayi jadi ngga enak diem (*ya iyalah.. Secara kulitnya sakit!).

Sebenarnya masalah dermatitis akibat penggunaan diaper ini tidak hanya bisa terjadi pada bayi, bisa juga terjadi pada orang dewasa (*engkong-engkong??!!) yang menggunakan diaper dan malas nggantinya (*hiiiiiiiii…………). Dermatitis akibat penggunaan diaper ini dapat diidentifikasi dengan adanya tanda kemerahan pada kulit yang tertutup pada saat penggunaan diaper. Peningkatan kelembaban pada wilayah kulit yang terpakaikan diaper menyebabkan mudah rusaknya kulit baik akibat mekanisme fisik, kimia maupun enzimatik. Kulit yang basah meningkatkan kemampuan penetrasi dari senyawa-senyawa iritan. Adanya cemaran dari enzim urease (berasal dari urine) juga akan menyebabkan terlepasnya amonia dari para bakteri yang ada dipermukaan kulit. Enzim lipase dan juga protease yang ngikut di feses, ditambah lagi dengan adanya urine akan menyebabkan kenaikan PH kulit dan meningkatkan keparahan iritasi yang terjadi.

Perlu diketahui juga kalo feses dari para baby yang hanya minum ASI memiliki karakteristik khusus yaitu berPH rendah (lebih asam). Adanya asam empedu yang ikut terkandung pada feses juga diketahui memiliki peran dalam terjadinya dermatitis pada kulit bayi pemakai diaper. Selain hanya peristiwa kerusakan jaringan, dermatitis pada pemakaian diaper juga sering disertai dengan infeksi. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh Candida albicans (92% dari bayi yang mengalami dermatitis terinfeksi C. albicans).

Kalo dilist penyebab dermatitis pada bayi pemakai diaper adalah :

  1. Terjadinya overhidrasi pada kulit
  2. Proses “maceration” a.k.a maserasi karena kulit yang overhidrasi tadi.
  3. Terjadinya kontak yang relatif lama antara kulit dan feses+urine.
  4. Masih adanya sisa sabun yang tertinggal
  5. Akibat diare yang diderita sang bayi (BAB > 3 kali sehari)
  6. Bisa juga akibat efek samping dari penggunaan antibiotik oral

    Medical care pada pasien dermatitis akibat penggunaan diaper antara lain:

  • Pemberian edukasi tentang cara penggunaan diaper yang aman dan sehat bagi bayi khususnya bagi para orang tua muda.
  • Pengobatan first line untuk dermtitis akibat penggunaan diaper adalah pemberian sediaan topikal (bisa salep, bisa bedak atau bahkan cream) yang mengandung Zink Oksida. Zink oksida merupakan terapi dermatitis akibat penggunaan diaper yang relatif murah yang memiliki beberapa keunggulan diantaranya: sebagai antiseptik dan astringen (pengecil pori-pori kulit); baik untuk digunakan pada penyembuhan luka; sangat jarang timbul alergi akibat penggunaan zink oksida.
  • Acethyl tocopherol juga telah diteliti penggunaannya pada ruangan NICU (ICU-nya bayi)dan telah terbukti efektifitas dan keamanannya dalam mengatasi masalah luka pada bayi.
  • Banyaknya obat-obat warung untuk pengobatan dermatitis pada bayi sangat mungkin dapat membingungkan para orang tua sehingga insiden terjadinya iritasi akibat penggunaan obat-obat warung itupun meningkat (meskipun gejala toksisnya sangat jarang ditemui). Bagi kulit bayi yang masih amat rentan, sediaan pelembab/emolien yang terbaik dan teraman adalah salep dari petrolatum putih murni/vaselin putih yang memiliki mekanisme kerja dengan “menahan” air di bawah lapisan epidermis kulit. Sediaan lain yang juga aman adalah salep yang berbasis aquaphor (campuran petroletum putih, minyak mineral dan juga lemak dari tumbuhan) meskipun harganya agak lebih mahal daripada salep petroletum putih murni.
  • Jika terjadi infeksi Candida albicans, obat-obatan antifungi perlu dipertimbangkan untuk digunakan. Biasanya penyembuhan yang bagus diperoleh dari penggunaan cream hidrokortison (1%) dua kali sehari yang dikombinasikan dengan antifungi (sediaan topikal yang mengandung nystatin; clotrimazole cream 1%; cream econazole nitrat; salep miconazol 2%; atau salep/krim amphotericin) setiap kali penggantian diaper atau paling tidak digunakan 4 kali sehari. Hindari penggunaan kortikosteroid yang kuat kecuali bila dikombinasi (clotrimazole+betametason, nystatin+triamcinolon).

    Pencegahan dermatitis akibat penggunaan diaper pada bayi adalah ABCDE (air, barrier, cleansing, diaper and education). Jika diaper merupakan pilihan yang lebih disukai penggunaannya daripada popok kain biasa maka hendaknya para orang tua bertanggung jawab dengan lebih sering melakukan penggantian.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.