Masalah Gelar

“Mas, ditanyain bu kabid, gelarnya sampean sekarang apa?”

Buat kebanyakan orang Indonesia masalah gelar ini layaknya masalah nuklir Korea Utara, kelihatan ga penting tapi penting banget. Coba sekali-kali perhatikan baliho/pamflet calon anggota legislatif atau calon pemimpin kepala daerah, hampir semuanya memasang gelar, mulai gelar adat dari keraton sampai gelar akademik. 

Yang agak menggelikan sebenarnya soal urusan gelar di lingkungan PNS. Setahu saya, gelar yang boleh dipakai oleh PNS itu yang resmi diakui oleh kantornya. Misal, seorang perawat yang awal masuk PNS-nya memakai ijazah D3, lalu kemudian dia mengambil kuliah S1+Profesi dan sudah lulus, secara aturan dia hanya bisa memakai gelar D3 kalau dia belum menyetarakan/menyesuaikan tingkat pendidikannya secara dinas. Yang sekarang banyak saya tangkap tidak demikian, karena sudah lulus S2 Farmasi langsung pasang gelar Magister di mana-mana walaupun belum menyesuaikan tingkat pendidikannya secara dinas. 

Saya tidak terlalu fokus soal gelar. Sejak awal masuk PNS saya hanya memakai gelar apoteker tanpa embel-embel sarjana farmasi sebelumnya. Terlalu banyak kalau dua gelar dipasang secara bersamaan. Agak segan juga sebenarnya ketika tahu orang-orang yang mengajar di kampus-kampus memakai semua gelar mereka, mulai S1, S2 sampe S3. Panjang banget jadinya. 

Iklan
Dipublikasi di opini | Meninggalkan komentar

Mengingat Tanggal

Dalam mengingat tanggal, saya merupakan orang yang sangat buruk. Ulang tahun ibu, ulang tahun mbak dan orang dekat sering kali lupa. Cara yang paling enak buat mempercepat ingatan soal tanggal-tanggal itu adalah dengan menjadikannya password akun-akun email atau media sosial lainnya, suatu cara yang sangat tidak aman tentunya. 

Mengingat tanggal kejadian penting nampaknya menjadi pola agama-agama di dunia. Setiap agama mempunyai hari besar yang ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa besar. Dulu pernah membaca, salah satu fungsi adanya peringatan hari-hari besar agama itu adalah untuk menularkan rasa yang sama kepada pengikut-pengikut agama yang hidup jauh setelah peristiwa besar terjadi sehingga mereka memiliki penghayatan yang sama dengan generasi awal. Fungsi lain peringatan hari besar keagamaan yaitu sebagai sarana “iklan”. Suatu agama kalau tidak ada perayaan-perayaan hari besar tentu akan hambar, kalah dengan agama lain yang dalam satu tahun bisa beriklan 1-2x melalui peringatan hari besar. 

Tapi hal itu hanya ada di komunitas agama besar. Agama-agama kecil tentu tidak memiliki efek iklan sebesar agama-agama besar waktu merayakan hari besar. Intinya pengakuan bersama tentang pentingnya suatu tanggal/hari diperlukan untuk memperoleh efek penghayatan dan iklan dari perayaan hari besar agama. Kalau pengakuan bersama itu tidak ada, mengingat tanggal hari-hari besar itu hanya merupakan kegiatan yang ga berarti banyak. 

Dipublikasi di opini | Meninggalkan komentar